Konata Konservasi Air Tanah Sekaligus Cegah Banjir

teks/foto: Henra M.S, http://www.kicaubintaro.co.id
Selasa, 31 Mei 2011

Sembari menunggu pemerintah membenahi permasalahan banjir yang tak kunjung usai, mungkin temuan anak bangsa yang satu ini layak diapresiasi. Temuannya ialah Konata (Konversi Air dan Tanah). Hasil kreasi Zantar H. Ambadar, atau akrab dipanggil Boy, seseorang yang hanya lulusan sarjana ekonomi, bukan tata kota. Namun idenya ini sangat praktis dan aplikatif. Bersama timnya, Boy tengah gencar menjajaki kerja sama dengan beberapa pemerintah daerah dan operator jalan tol.

Logika temuannya simpel saja, insinyur tata kota kita selalu menciptakan saluran air menuju sungai atau kali sebelum berakhir ke laut untuk mengurangi resiko banjir. Limpahan air hujan itulah yang ditampung di Konata. Sehingga, debit air akan kembali ke alam, mengisi rongga-rongga yang kosong di dalam tanah, mengurangi desakan air laut yang sudah sedemikian parah memasuki daratan, dan tentu saja berfungsi mengurangi resiko banjir bagi daerah-daerah yang sebelumnya sering tergenang air hujan.

Tidak jauh berbeda dengan biopori, hanya saja Konata lebih maksimal karena diameternya jauh lebih besar. “Diameternya satu meter dan kedalaman empat meter. Dengan sedalam itu, lapisan tanah akan berbeda, daya serapnya pun berbeda, tergantung daerahnya,” jelas Boy. Ia menambahkan, ukuran ini sangat tepat karena tidak banyak tempat yang dibutuhkan dan tekanan tanah di sekitarnya juga tidak akan terganggu.

Ide pembuatan Konata muncul bukan karena masalah banjir. Ide ini juga sudah lama ditemukan dan mengalami berbagai perubahan bentuk agar lebih maksimal. “Daerah kami ini (Ciawi) kalau musim kemarau, sumur biasanya kering. Nah, saat itulah orang tua saya mencetuskan ide ini. Bila hujan, air melimpah, tapi tidak banyak yang menyerap ke tanah. Salah satu caranya yaitu dengan penyerapan buatan, menampung air hujan dan menyerapkannya ke tanah. Alhammdulilah, sudah puluhan tahun, sumur di sini tidak pernah kering,” tambah boy, ketika mengundang reporter Kicau Bintaro ke rumahnya di bilangan Ciawi, Bogor.

Menurut Boy, tandon air Konata ini mampu meresapkan 30-36 meter kubik air hujan. Bisa kita bayangkan bila Konata ini dibuat di setiap daerah pemukiman atau pinggir jalan, genangan air ketika hujan akan berkurang, bahkan banjir akan teratasi bila daerah sekitar Jakarta seperti Bogor juga melakukan hal yang sama.

“Untuk daerah-daerah langganan banjir ketika turun hujan, jarak ideal antar Konata satu dengan lainnya 20 meter. Tinggal hitung jumlah serapannya. Daerah-daerah yang tidak banjir cukup radius 40 meter. Dijamin air tanah akan tersimpan baik,” tambahnya.

Konstruksinya sendiri cukup simpel (lihat gambar maket) dan sangat cocok di lingkungan rumah, dan dalam beberapa hari tim Konata bisa menyelesaikan proyek penggalian dan pemasangan Konata. Biayanya? “Seminggu sudah terpasang dengan rapi. Semua bahan dan penggalinya kami sediakan. Untuk lingkungan rumah kami hargai Rp 4 juta. Itu sudah semua dan langsung rapi,” tukasnya. Nah, warga River Park, Bintaro Jaya, menjadi lokasi pertama yang akan dipasangi Konata ini. Cluster lain mau coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s