Berkomunitas Lewat Hobi

teks/foto: Icef, Henra, Nino/ Nino, Henra dan istimewa
Dok : http://www.kicaubintaro.co.id
 
Warga Bintaro Jaya memang kaum sosial. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki jiwa silaturahmi dan kebersamaan tinggi. Coba saja tengok kehidupan mereka. Jika ada kesempatan dan waktu, para warga lebih suka bersosialisasi dengan tetangga. Kendati sama-sama memiliki kesibukan, kegiatan kumpul-kumpul warga tak lantas dikesampingkan.

Itulah mengapa di kawasan pemukiman ini banyak bermunculan komunitas-komunitas yang berdasarkan kesamaan hobi. Mulai dari komunitas otomotif, sepeda, fotografer, sampai pecinta film. Bukan hanya sekadar kegiatan kumpul-kumpul atau berbagi ilmu dan pengalaman saja, komunitas-komunitas tersebut pun masing-masing punya kegiatan bakti sosial.
Kini, Bintaro Jaya kehadiran satu lagi komunitas desain yang cukup populer yaitu WPAP (Wedha Pop Art Portrait).
Komunitas yang sudah dua kali didaulat berpameran di pagelaran Java Jazz ini hadir di Bintaro Jaya melalui kantor sekretariat mereka di Sektor 1. Ini merupakan kantor sekretariat pertama yang didirikan.

Faktor pemilihan Bintaro Jaya sebagai tempat pertama House of WPAP bukan tanpa alasan. “Bintaro Jaya merupakan tempat komunitas warga beragam profesi yang cukup besar. Dengan hadir di sini, kami berharap bisa berbagi kreasi dan mendapat respons positif. Kebetulan saya juga berkantor di sini,” terang Itock Soekarso, salah satu pentolan komunitas WPAP Chapter Jakarta.

Sebagai gambaran, WPAP merupakan komunitas desain pop art portrait dengan ciri khas warna berbeda dari warna wajah sebenarnya. Ide ini muncul pertama kali berkat kreasi Wedha Abdul Rasyid yang kala itu masih disebut Foto Marak Berkotak (FMB) di Majalah Hai. “Mengangkat figur yang sudah populer, disuguhkan kembali dalam menu rasa yang berbeda, itulah WPAP,” jelas Wedha Abdul Rasyid.

Wedha juga menambahkan, FMB yang menjadi cikal-bakal WPAP sudah diperkenalkan tahun 1990. Tahun 2007 mulai mendapat perhatian lagi dari para praktisi desain grafis yang sebelumnya pernah melihat karya Wedha. “Tahun 2007, saya ketemu orang-orang yang suka karya itu dan mengatakan tertarik untuk mengangkatnya kembali. Tahun 2008, lahirlah WPAP,” terang Wedha.

Sekarang, wajah-wajah populer hampir semuanya di-WPAP oleh anggota komunitas yang tersebar di seantero Nusantara. Sejak mendirikan sekretariat pertengahan Februari 2011 lalu di Sektor 1, ratusan karya bisa dilihat di galeri House of WPAP ini. Mulai dari foto politikus, pemusik, atlet sampai gambar tokoh-tokoh dunia dibuat berwarna ciri WPAP.

Tren positif ini semakin baik ketika hasil-hasil karya anak bangsa ini mendapat perhatian pada setiap pameran. Pembelinya mayoritas orang luar negeri seperti yang terjadi di beberapa pameran di Java Jazz dan eksibisi di Grand Indonesia. “Kami merasa karya asli Indonesia ini harus dikenal tidak hanya di dalam negeri. Melalui bagian Pengembangan dan Pendidikan WPAP, kami bekerja sama dengan berbagai universitas untuk mengenalkan WPAP dan responsnya sangat baik,” papar Itock.

Sekilas, memberi warna pada wajah memang tidak sulit. Tetapi, memberi warna pada gambar wajah tetap dengan interpretasi yang sama bukan hal mudah. “Memang beberapa orang menganggap mudah, padahal butuh kreatifitas penuangan warna agar kesan tidak berubah,” tambahnya.

Kehadiran House of WPAP di Bintaro Jaya menjadi kemudahan tersendiri bagi warga yang tertarik dengan karya-karya WPAP. Di galeri ini terdapat ratusan karya yang bisa dibeli. Bahkan, bisa memesan gambar wajah yang ingin di-WPAP, termasuk wajah sendiri atau orang yang Anda sayangi dengan harga menarik. Tertarik? Datang saja ke House of WPAP Bintaro, Jalan Merpati Raya Blok Q1 No. 5, Sektor 1.

        
Ber-Jazz Bareng

Komunitas lain yang juga baru terbentuk adalah B-Jazz. Meski baru dibentuk awal tahun 2011, komunitas musik jazz Bintaro yang tergabung dalam B-Jazz mulai menunjukkan performa sebagai wadah komunitas penggemar, penikmat, dan musisi jazz Bintaro Jaya dan sekitarnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyediakan panggung setiap Sabtu pada minggu ke dua setiap bulan sebagai ajang perform para musisi jazz muda. Anda penikmat musik jazz bisa menikmati secara gratis di Bintaro Trade Center (BTC).

Bermula dari ide beberapa pentolan dan penikmat musik jazz Bintaro Jaya, B-Jazz berdiri pada 8 Januari 2011 dan langsung mendapat respons positif. “Sekarang anggota B-Jazz yang gabung di facebook dan aktif di sini sekitar 200 orang. Awalnya, bersama beberapa teman ingin membentuk komunitas bermain musik yang lebih segmentif, yaitu jazz, ada tempat berekspresi, didukung sama pengelola BTC, ya jadilah B-Jazz,” terang Lian, salah satu penggagas B-Jazz.

Respons positif itu bisa dilihat ketika digelar acara rutin bulanan pada hari Sabtu, 9 April lalu. Awalnya, panggung B-Jazz yang berada tepat di sayap kanan BTC Blok A hanya diisi anggota-anggota komunitas. Setelah acara dimulai dengan penampilan apik grup anggota B-Jazz, acara pun semakin meriah. Petikan gitar yang dipadu permainan bas serta ketukan drum menciptakan irama menarik hingga pengunjung BTC mulai berkumpul menikmati alunan musik.

B-Jazz dengan usia yang masih belia berhasil mengakomodasi anak muda pecinta musik jazz Bintaro Jaya dan sekitarnya tidak hanya melalui panggung. Banyak pelajaran yang ditelurkan pada setiap anggota komunitas. “Kami memberikan pembelajaran dari teman-teman yang sudah berpengalaman. Setiap anggota juga bisa berkolaborasi dengan senior dan membuat network bagi pecinta musik jazz, khususnya di Bintaro dan sekitarnya. Itulah harapan kami,” papar Lian.

Pertemuan rutin seperti workshop sebulan sekali juga mereka adakan. Isinya yang pasti tentang musik, sejarah musik jazz, bagaimana tampil padu dengan alat musik lain, cara bermain kompak, serta langkah-langkah menuju improvisasi dan etika bermain musik,” tambahnya.

Bagi Anda pecinta musik jazz dan tertarik ingin gabung tinggal datang ke Sekolah Musik Legato yang berada di BTC. “Harapan kami, nantinya grup-grup yang dibentuk di komunitas ini bisa tampil di tempat-tempat lain. Rencananya, ke depan mereka juga bisa rekaman. Masa main live terus tapi nggak ada karya? Kurang bagus juga,” akhir Lian yang sudah senior di musik jazz.

           
Gowes Sambil Motret

Komunitas yang cukup menarik diulas adalah Klick 9. Penggagasnya adalah para anggota komunitas sepeda Gowez 9. Fotografi ternyata merupakan salah satu hobi lain dari sebagian besar anggotanya. Saat gowes, sebagian anggota Gowez 9 juga kerap hunting foto hingga akhirnya segenap anggota Gowez 9 pun sepakat membentuk sebuah komunitas fotografi.
Anggota awal berjumlah 17 orang termasuk 5 anggota wanita. Komunitas ini baru terbentuk pertengahan Maret lalu. “Kami semua masih pemula,“ ujar Devayanti Wulaningtyas, Ketua Klick 9. Walau Pemula, Klick 9 diasuh oleh salah seorang anggota yang cukup makan asam garam fotografi, yaitu Junaidi Anggabrata. “Pak Jun itu pehobi fotografi dan ingin share ilmu dengan sesama anggota,” tukas Deva.

Klick 9 terbuka bagi siapapun juga untuk bergabung. Tidak cuma untuk anggota Gowez 9, tapi di luar komunitas sepeda atau warga di luar Sektor 9 pun boleh bergabung. “Kami tidak membatasi jenis kamera. Malah biar cuma pakai kamera dari BB sekalipun, tak masalah,“ tegas Junaidi.

Komunitas Klick 9 punya agenda berkumpul saat weekend, antara Jumat hingga Minggu. Untuk pembelajaran teori, kerap berkumpul di resto Babe’s Cooking di Pasar Segar Graha Raya. Dengan menggunakan layar proyektor, usai makan malam bersama, segenap anggota bisa langsung belajar teori bareng. Mereka juga memiliki agenda yang dibagi dalam beberapa sesi, seperti sesi hunting outdoor di kota tua Jakarta, kelas teori dasar-dasar fotografi, photoshop, nightshoot, outdoor, photography sambil gowes dan lighting indoor serta outdoor.

Untuk lokasi hunting foto dipilih sekitar Parigi, Tegal Rotan dan sekitarnya. “Banyak lokasi bagus dan human interest di perkampungan sekitar Jombang yang juga bisa dijadikan obyek foto,“ ujar Junaidi. Saat hunting, tentu saja para anggota menggunakan ransel lebih untuk membawa kamera sambil gowes. “Klick 9 adalah kombinasi olah raga dan seni,“ sambungnya.

“Kami semua di sini kan masih pemula, jadi masih perlu banyak belajar. Terus terang, kami mendapatkan banyak sekali ilmu baru. seperti komposisi, artistik, frame, dan sebagainya,“ imbuh Deva. “Kekeluargaan di sini juga bikin kita semua tambah kompak,“ tambahnya lagi. Buat yang mau bergabung dengan Klick 9, bisa daftar di grup facebook: Photography Enthusiasm Community atau Komunitas Foto Bintaro.
 
Sixty Niner Bicycle Club

Komunitas sepeda juga makin banyak. Salah satunya adalah Sixty Niner Bicycle Club (69er). Ini adalah komunitas pehobi sepeda warga RT 06 RW 09, Puyuh Barat, Sektor 5. Makanya, nomor RT/RW tersebut yang menjadi identitas komunitas. Terbentuk sejak tahun 2005, ketika mereka mengadakan kegiatan olah raga touring bareng dengan sepeda.

Kegiatan bersepeda pun berlanjut. Rutin dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu. Anggotanya semakin lama semakin bertambah. Tidak hanya dari Bintaro, tapi juga dari Cinere, Cipete, Ciledug hingga Pamulang. Terdaftar sekitar 100 orang anggota yang telah bergabung dengan Sixty Niner Bicycle Club. Anggota aktif yang rutin gowes bareng sejumlah 30-50 orang.

Komunitas 69er kerap berkumpul hari Sabtu pagi jam 6.30 di sekitar McDonald’s, Sektor 9. “Kadang kami bersepeda hingga sore hari,“ ujar Amien S. Sutanto, salah satu anggota komunitas, yang merupakan adik kandung Hanny Sutanto, Ketua Dewan Suro 69er Bicycle Club.

Setiap bulan ada agenda dua kali kegiatan touring ke luar kota. Sempat touring ke Gunung Merapi, Cianjur, Cipanas, Bandung, Rindu Alam, Puncak, dan Sentul. Untuk agenda reguler, rute-nya menuju Parigi, jalur JPG, Serpong, dan sekitarnya. “Kalau touring, perlengkapannya juga harus lengkap, supaya aman. Kami selalu menyiapkan HT untuk koordinasi antara tim depan dan belakang. Selain itu, menyiapkan juga tim medis dan tim perlengkapan,“ ucapnya.
Di akhir gowes, kuliner bareng biasanya menjadi kegiatan penutup. Kala bulan puasa, seluruh anggota 69er kerap mengumpulkan uang dari para anggota untuk belanja beras, sembako atau perlengkapan sekolah. Lantas disumbangkan kepada yang membutuhkan. “Kegiatan sosial juga harus sering diadakan, untuk membantu mereka yang membutuhkan,“ papar Amien.

Bersepeda, Amien mengakui, sangat menyenangkan. “Lebih banyak terasa sukanya karena di sini ada rasa kebersamaan yang kuat. Dukanya hanya saat harus menempuh jalur track yang berat saja,“ terangnya. Anggota 69er Bicycle Club menggunakan jenis sepeda mountain bike (MTB). “Tapi kalau pas bulan puasa, kegiatan night ride dan car free day, kami menggunakan sepeda Fixie,“ lanjutnya.

Ternyata, sepeda juga dapat menghasilkan bisnis yang cukup menjanjikan. Amien pun mendirikan sebuah kafe dua lantai berkonsep sepeda di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, yang diberi nama Sixty Niner Café and Bike Shop. Konsepnya, resto berpadu dengan toko sepeda. Kafe ada di lantai 1, sementara bike shop di lantai dua.

Kafe dan bike shop tersebut, resmi dibuka sejak 5 Oktober 2010 lalu. Café 69er menyuguhkan beragam menu makanan ringan hingga berat. “Tempat ini kerap dijadikan tongkrongan komunitas sepeda 69er. Banyak juga yang beli sepeda di lantai atas dan kemudian langsung bergabung dengan komunitas sepeda 69er,“ tandas Amien. Tak cuma menjual sepeda, di lantai dua tersebut juga menyiapkan fasilitas servis. Tempat ini buka setiap hari pukul 8 pagi sampai 10 malam.

Komunitas 69er juga rutin berkumpul di sini untuk makan siang setiap Sabtu atau Minggu seusai gowes bareng. Rencana ke depan, 69er Bicycle Club akan menerbitkan kartu member yang memfasilitasi anggota. Selain memberikan diskon di 69er kafe, kartu member akan dapat digunakan untuk mendapatkan diskon saat membeli dan melakukan servis sepeda di mana saja. Asik kan? 

Tentu saja asik. Ajang kumpul-kumpul dan silaturahmi antaranggota komunitas bukan hanya sekadar melampiaskan hobi, tapi juga bisa menjadi lahan bisnis yang bermanfaat untuk sesama anggota. Tambah ilmu dan pengalaman juga sudah pasti didapat. Yuk bikin lagi komunitas-komunitas lain, biar Bintaro Jaya makin terkenal sebagai kaum sosial.
 
Jazz dan Beatles

Komunitas lain yang juga baru terbentuk adalah B-Jazz. Meski baru dibentuk awal tahun 2011, komunitas musik jazz Bintaro yang tergabung dalam B-Jazz mulai menunjukkan performa sebagai wadah komunitas penggemar, penikmat, dan musisi jazz Bintaro Jaya dan sekitarnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyediakan panggung setiap Sabtu pada minggu ke dua setiap bulan sebagai ajang perform para musisi jazz muda. Anda penikmat musik jazz bisa menikmati secara gratis di Bintaro Trade Center (BTC).

Bermula dari ide beberapa pentolan dan penikmat musik jazz Bintaro Jaya, B-Jazz berdiri pada 8 Januari 2011 dan langsung mendapat respons positif. “Sekarang anggota B-Jazz yang gabung di facebook dan aktif di sini sekitar 200 orang. Awalnya, bersama beberapa teman ingin membentuk komunitas bermain musik yang lebih segmentif, yaitu jazz, ada tempat berekspresi, didukung sama pengelola BTC, ya jadilah B-Jazz,” terang Lian, salah satu penggagas B-Jazz.

Respons positif itu bisa dilihat ketika digelar acara rutin bulanan pada hari Sabtu, 9 April lalu. Awalnya, panggung B-Jazz yang berada tepat di sayap kanan BTC Blok A hanya diisi anggota-anggota komunitas. Setelah acara dimulai dengan penampilan apik grup anggota B-Jazz, acara pun semakin meriah. Petikan gitar yang dipadu permainan bas serta ketukan drum menciptakan irama menarik hingga pengunjung BTC mulai berkumpul menikmati alunan musik.

B-Jazz dengan usia yang masih belia berhasil mengakomodasi anak muda pecinta musik jazz Bintaro Jaya dan sekitarnya tidak hanya melalui panggung. Banyak pelajaran yang ditelurkan pada setiap anggota komunitas. “Kami memberikan pembelajaran dari teman-teman yang sudah berpengalaman. Setiap anggota juga bisa berkolaborasi dengan senior dan membuat network bagi pecinta musik jazz, khususnya di Bintaro dan sekitarnya. Itulah harapan kami,” papar Lian.

Pertemuan rutin seperti workshop sebulan sekali juga mereka adakan. Isinya yang pasti tentang musik, sejarah musik jazz, bagaimana tampil padu dengan alat musik lain, cara bermain kompak, serta langkah-langkah menuju improvisasi dan etika bermain musik,” tambahnya.

Bagi Anda pecinta musik jazz dan tertarik ingin gabung tinggal datang ke Sekolah Musik Legato yang berada di BTC. “Harapan kami, nantinya grup-grup yang dibentuk di komunitas ini bisa tampil di tempat-tempat lain. Rencananya, ke depan mereka juga bisa rekaman. Masa main live terus tapi nggak ada karya? Kurang bagus juga,” akhir Lian yang sudah senior di musik jazz.

Komunitas musik bukan cuma B-Jazz, tapi di Bintaro Jaya juga ada komunitas para penggemar band legendaries Inggris, The Beatles. Komunitasnya menyebut diri Bintaro Beatles Community (BBC). Terbentuk pada tanggal 8 Desember 2007, bersamaan dengan tanggal meninggalnya pentolan Beatles John Lennon.

BBC sudah beranggotakan lebih dari 60 anggota. Terdiri dari para penggila musik asal Liverpool yang berusia antara 15-45 tahun. Anggotanya juga bukan hanya warga Bintaro Jaya saja. Malah ada yang berdomisili Serpong, Ciledug, dan Ciputat. “Anggota yang muda bergabung karena ingin menambah wawasan tentang Beatles. Sementara yang tua, lebih kepada nostalgia waktu muda,” ungkap Dhandya, pendiri BBC, yang akrab disapa Dondon Harrison.
 
Komunitas ini juga menaungi beberapa band yang sering membawakan lagu-lagu The Beatles. Antara lain, Niroe Band, Dear John, Plastic Soul, dan Blue Jay Way. Bahkan, beberapa diantaranya sudah ada yang punya album dengan label indie. “Rencananya, kami ingin band-band tersebut membuat album kompilasi Tribute to The Beatles,” lanjut Dondon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s